PROBING PROMPTING METHODE
07 Desember 2024
PROBING PROMPTING METHODE
Disusun Oleh : Rahma Nabila Fahrina Rosid
NIM : 222101020011
BAB
1
PENDAHULUHAN
1.1 Latar Belakang
Metode Probing Prompting adalah pendekatan pembelajaran yang dirancang untuk mendorong siswa lebih aktif dalam proses belajar. Metode ini berfokus pada pemberian pertanyaan-pertanyaan mendalam (probing) dan stimulasi terarah (prompting) untuk membantu siswa menemukan jawaban atau solusi secara mandiri.
Dalam dunia pendidikan, salah satu tantangan utama adalah memastikan siswa tidak hanya menyerap informasi secara pasif, tetapi juga mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan mandiri. Pendekatan pengajaran yang konvensional sering kali kurang efektif dalam mengasah kemampuan berpikir tingkat tinggi. Oleh karena itu, metode Probing Prompting menjadi salah satu alternatif yang efektif untuk menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif dan berpusat pada siswa.
Metode ini didasarkan pada gagasan bahwa keterampilan berpikir siswa dapat ditingkatkan melalui rangkaian pertanyaan yang sistematis dan terarah. Dengan memberikan stimulus berupa pertanyaan bertahap, siswa diajak untuk memahami konsep secara lebih mendalam, menganalisis informasi, hingga menarik kesimpulan dari pengetahuan yang mereka miliki.
Penggunaan Probing Prompting Method tidak hanya memperkaya proses belajar siswa tetapi juga meningkatkan peran guru sebagai fasilitator yang dapat memotivasi diskusi yang produktif. Pendekatan ini sangat fleksibel dan dapat diterapkan di berbagai jenjang pendidikan maupun bidang studi, terutama dalam materi yang memerlukan pemahaman konseptual yang mendalam.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian dari Probing
Prompting Method?
2. Bagaimana kelebihan dan kekurangan Probing Prompting Method dalam
pembelajaran anak usia dini?
3.
Bagaimana implementasi Probing Prompting Method untuk pendidikan anak
usia dini?
1.3 Tujuan
1.
Menjelaskan pengertian dari Pobing Prompting Method.
2. Mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan Pobing Prompting Method dalam
pembelajaran anak usia dini.
3.
Menguraikan langkah-langkah yang tepat dalam menerapkan Pobing Prompting
Method untuk pendidikan anak usia dini.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Probing
Prompting Method
Kedudukan guru mempunya arti yang
penting dalam dunia Pendidikan. Arti penting itu bertolak dari tugas dan
tanggung jawab guru yang cukup berat untuk mencerdaskan anak didiknya. Kerangka
berfikir yang demikian menghendaki seorang guru untuk melengkapi dirinya dengan
berbagai keterampilan yang diharapkan dapat membantu dalam menjalankan
tugasnya, dalam proses belajar mengajar interaksi yang baik antara guru dan
murid sangat membantu tercapainya tujuan pembelajaran.
Oleh karena itu metode
Pobing prompting menjadi salah satu metode yang efektif. Metode Probing
Prompting adalah teknik pendidikan yang bertujuan untuk merangsang pemikiran
mendalam dan keterlibatan aktif diantara siswa melalui serangkaian pertanyaan
dan petunjuk secara bertahap. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, metode
ini sangat efektif untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, rasa ingin
tahu, dan kemampuan berbahasa pada anak-anak.
Metode pembelajaran probing – prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian pertanyaan yang bersifat menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan murid dan pengalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari.
Metode pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan
menunjuk murid secara acak sehingga setiap murid mau tidak mau harus
berpartisipasi aktif, murid tidak bisa menghindar dari proses pembelajaran,
setiap saat murid bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Dalam proses ini
kemungkinan akan terjadi suasana tegang bagi murid, namun dapat diatasi dengan
pendekatan sosial. Untuk mengurangi kondisi tersebut, guru hendaknya merangkai
pertanyaan disertai dengan wajah ramah, suara menyejukkan, nada lembut,ada
canda, senyum, dan tertawa, sehingga suasana menjadi nyaman, menyenangkan, dan
ceria.
Secara bahasa kata “probing” memiliki arti menggali atau melacak. Sedangkan menurut istilah
probing berarti berusaha memperoleh keterangan yang lebiih jelas atau lebih
mendalam. Probing adalah teknik dimana guru memberikan pertanyaan mendalam atau
meminta penjelasan lebih lanjut setelah siswa merespon untuk mendorong
pemikiran yang lebih komprehensif. Pertanyaan probing biasanya berupa
pertanyaan seperti “Mengapa kamu berfikir begitu?” atau “Apa yang akan terjadi
jika..”. Tujuan dari probing adalah membantu anak-anak mendalami pemahaman
mereka dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang.Probing mendorong
anak-anak untuk berfikir kritis dan memperluas pengetahuan mereka dengan
mengeksplorasi jawaban secara lebih rinci.
Prompting, disisi lain, adalah teknik dimana guru memberikan
panduan atau petunjuk ketika siswa kesullitan untuk menjawab. Dengan kata lain,
prompting memberikan bantuan minimal agar anak
merasa bahwa mereka menemukan jawaban sendiri. Contohnya adalah ketika
seorang guru bertanya “Apa warna apel ini?” dan jika anak ragu, guru bisa
memberikan petunjuk seperti “Warnanya sama dengan tomat.” Prompting membantu
anak -anak tetap terlibat dan tidak merasa terlalu sulit, karena mereka
menerima dukungan bertahap untuk menemukan jawabannya. Bentuk pertanyaan
prompting dibedakan menjadi 3:
1. Mengubah susunan pertanyaan dengan kata-kata yang lebih sederhana
yang membawa mereka Kembali pada pertanyaan semula.
2. Menanyakan pertanyaan-pertanyaan dengan kata-kata yang lebih sederhana
yang disesuaikan dengan pengetahuan murid-muridnya saja.
3. Memberikan suatu review informasi yang diberikan dan pertanyaan
yang membantu murid untuk mengingatkan atau melihat jawabannya. (E.C. Wragdan George Brown, 1997: 43)
Dalam praktiknya, metode ini diterapkan melalui aktivitas seperti: Diskusi kelompok kecil Dimana anak-anak didorong untuk bertanya dan menjawab pertanyaan, kegiatan bercerita yang mengeksplorasi pemikiran anak-anak tentang tokoh atau jalan cerita, permainan edukatif yang melibatkan bimbingan guru seperti permainan tebak-tebakan
dengan petunjuk. Adapun Langkah-langkah penerapan dalam mengkondisikan Teknik Probing dilakukan melalui 8 tahap yakni:
a.
Menghadapkan siswa pada situasi baru. Misalnya dengan menunjukan
gambar, alat pembelajaran objek, gejala yang dapat memunculkan teka-teki.
b.
Memberi waktu tunggu beberapa saat (3-5) detik atau sesuai
keperluan agar siswa melakukan pengamatan.
c.
Mengajukan pertanyaan indicator atau kompetensi yang ingin dicapai
siswa.
d.
Memberi waktu beberapa saat (2-4 detik) untuk memberikan kesempatan
siswa mencari jawabannya.
e.
Meminta seorang siswa untuk menjawab pertanyaan yang telah
diajukan.
f. Jika jawaban yang diberikan siswa benar atau
relevan dilanjutkan dengan siswa lain, untuk meyakinkan bahwa semua siswa
terlibat dalam kegiatan yang sedang berlangsung serta memberi pujian atas
jawaban yang benar. Jika jawaban keliru atau tidak relevan, diajukan pertanyaan
susulan yang berhubungan dengan respon pertama, dimulai dari pertanyaan yang
bersifat observasional kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan yang menuntut
siswa berfikir lebih tinggi menuju pertanyaan indikator pencapaian kompetensi
dasar sampai dapat menjawab pertanyaan yang diajukan tadi.
g. Pertanyaa yang diajukan pada tahap ini
sebaiknya diajukan/di interaksikan juga pada siswa lain agar seluruh siswa
terlibat dalam kegiatan probing.
h.
Mengajukan pertanyaan akhir pada siswa lain
untuk lebih menegaskan bahwa kompetensi dasar yang dituju sudah dicapai.
Sedangkan prompting bisa dilakukan dengan
cara:
a. Menyusun kembali kata-kata pertanyaan
(rephrasing)
b. Menggunakan pertanyaan yang sederhana dan relevan
dengan pertanyaan awal.
c. Memberi informasi tambahan agar siswa dapat menjawab.
Ada beberapa tujuan dan manfaat dari metode
Probing Prompting diantaranya yaitu:
a. Membangun kepercayaan diri: Anak-anak merasa lebih percaya diri saat
menemukan jawaban secara mandiri
b. Meningkatkan keterampilan berpikir kritis: Mendorong anak-anak untuk
berpikir lebih dari sekedar menerima informasi.
c. Mengembangkan kemampuan bahasa: Metode ini memperkaya kosakata dan membantu
anak-anak mengartikulasikan pemikiran mereka.
2.1
Kelebihan dan Kekurangan Metode Peer Teaching
Suatu strategi
maupun teknik yang di berikan tidak akan pernah lepas dari kelebihan dan juga
kekurangan, begitu juga dengan metode Probing Prompting ini, beberapa kelebihan
yang dimiliki oleh metode ini diantaranya :
·
Mendorong siswa aktif unutk berfikir
· Memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang
kurang jelas sehingga gguru dapat menjelaskan Kembali.
· Perbedaan pendapat antara siswa dapat dikompromikan atau diarahkan pada suatu diskusi.
· Pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa, sekalipun
Ketika itu siswa sedang rebut, yang mengantuk, Kembali tegar dan hilang
kantuknya.
·
Sebagai cara meninjau Kembali (Review) bahan Pelajaran yang lampau.
· Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat.
Sedangkan
beberapa kekurangan dalam metode ini yaitu:
·
Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan Tingkat berfikir
dan mudah dipahami siswa.
· Waktu sering banyak terbuang apabila siswa tidak dapat menjawab
pertanyaan sampai dua atau tiga orang.
· Dalam jumlah siswa yang banyak, tidak mungkkin cukup waktu untuk memberikan
pertanyaa kepada tiap siswa.
·
Siswa merasa takut, apalagi bila guru kurang dapat mendorong siswa
untuk berani, dengan menciptakan suasana yang tidak tegang, melainkan akrab.
2.2
Implementasi
Probing Prompting dalam Pendidikan Anak Usia Dini
Implementasi Probing Prompting pada usia dini memerlukan perencanaan yang matang, namun bisa diterapkan dengan cara yang sederhana dan menyenangkan sesuai dengan karakteristik anak usia dini. Berikut adalah beberapa cara mengimplementasikan peer teaching dalam pendidikan anak usia dini:
- Persiapan Guru: Guru mempersiapkan materi yang sederhana dan menarik sehingga anak-anak bisa memahami dan mengajarkannya dengan mudah.
- Pemberian waktu tunggu : Agar anak – anak dapat mengamati dan mencari jawaban pembelajaran yang dibawakan oleh Guru
- Pelaksanaan Pembelajaran: Pembelajaran dapat dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan yang menuntun atau menggali pengetahuan murid dalam pembelajaran saat itu, apabila jawaban anak benar maka lemparkan pertanyaan yang sama kepada murid lain agar para murid sama sama mndapatkan kesempatan dan keterlibatan yang sama, dan apabila jawaban salah maka berikan petunjuk kepada murid, bisa dengan cara memberikan clue atau sebagai
- Memberikan pertanyaan lain: agara mengetahui kompetisi dasar telah tercapai
- Pengawasan Guru: Guru tetap mengawasi dan memberikan bimbingan jika diperlukan, memastikan suasana belajar tetap positif.
BAB III
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Metode
probing-prompting adalah proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan
siswa, dimana kegiatan tersebut merupakan kegiatan tanya jawab yang pada
kegiatan ini guru bertanya secara beruntug dan siswa menjawab secara cepat. Model
pembelajaran probing-prompting adalah pembelajaran yang dapat menggali pola
pikir siswa dengan mengajukan pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali
pola pikir siswa guna memperoleh pengetahuan baru yang sedang dipelajari
berdasarkan pengetahuan dan pengalaman siswa sebelumnya.
Adapun langkah-langkah penerapan model probing
prompting dalam aktifitas belajar adalah guru mempersiapkan
materi yang akan didiskusikan berupa permasalahan baik dalam bentuk gambar,
rumus maupun situasi lainnya. Peserta didik harus merusumuskan pertanyaan
dan jawaban, jika jawaban tepat maka guru akan menanggapinya dan memberitahukan
kepada peserta didik lain. Jika jawaban salah maka guru akan memberi petunjuk
untuk menyelesaikan jawaban tersebut.
Probing adalah teknik dimana guru memberikan pertanyaan mendalam
atau meminta penjelasan lebih lanjut setelah siswa merespon untuk mendorong
pemikiran yang lebih komprehensif. Pertanyaan probing biasanya berupa
pertanyaan seperti “Mengapa kamu berfikir begitu?” atau “Apa yang akan terjadi
jika..”.
Prompting, disisi lain, adalah teknik dimana guru memberikan
panduan atau petunjuk ketika siswa kesullitan untuk menjawab. Dengan kata lain,
prompting memberikan bantuan minimal agar anak
merasa bahwa mereka menemukan jawaban sendiri. Contohnya adalah ketika
seorang guru bertanya “Apa warna apel ini?” dan jika anak ragu, guru bisa
memberikan petunjuk seperti “Warnanya sama dengan tomat.”
DAFTAR PUSTAKA
Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo:
Masmedia Buana Pustaka.
S. Nasution, Metode Research, (Jakarta: Bumi Aksara), 122
Johnson, D. W. (2016). Active Learning: Cooperation in the Classroom.
Interaction Book Company
Slavin, R. E. (2015). Educational Psychology: Theory and
Practice. Pearson.
Syaiful Bahri Djamarah, Guru Dan Anak Didik,
(Jakarta: Rineka Cipta, 2005), 104
Sriyono, dkk, Belajar Mengajar dalam CBSA,
(Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1992), 103
Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Zain, Strategi
Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), 107
Komentar
Posting Komentar